Kita yang hidup pada jaman ini dapat
mengetahui peradaban masa lalu dengan baik, bahkan peradaban dunia dari masa ke
masa berikutnya. Ini semua adalah karena kita bisa membaca artikel-artikel
tentang peradaban tersebut. Adanya artikel-artikel tidak semata-mata lahir
begitu saja atau turun dari langit seperti air hujan, namun berkat karya-karya
para pujangga terdahulu, yang menuangkan tulisannya dalam aneka media.
Kami kutipkan
dari Peribahasa Latin
kuno menyatakan Verba Volent Scripta
Manent. Yang artinya “Apa yang
terkatakan, akan segera lenyap. Apa yang tertulis akan menjadi abadi.”
Memiliki pengertian bahwa sesuatu yang hanya kita sampaikan melalui media
verbal (suara, bicara) akan lenyap atau terlupakan, namun yang disampaikan
melalui tulisan akan menjadi abadi dan dapat dikenang sepanjang masa.
Ucapan seorang Mahatma Gandhi yang kita
kenal sebagai pejuang Anti Kekerasan menyampaikan “Kasih
Sayang Merupakan Bentuk Tertinggi Dari Sikap Tanpa Kekerasan” . Lalu kenapa
ucapannya sampai abadi ? Seandainya saja tidak ada pujangga yang menuliskan
tentu ucapan beliau hanya bertahan saat-saat masa perjuangan.
Menulis itu bekerja untuk keabadian. Dengan
menulis, maka seseorang akan terus ada sekalipun jasadnya sudah dipendam tanah.
Seseorang yang rajin menulis maka hidupnya akan abadi, tak lekang di gerus
zaman. Ia senantiasa hidup berkat karya-karyanya. Keabadiannya terletak pada
karya-karya tulisannya yang dibaca banyak orang, yang pada akhirnya mengalirkan
pahala kebaikan bagi si empunya tulisan.
Pramoedya Ananta Toer
Kita lihat
ke masa lampau yang lebih extrim, pada jaman batu. Keinginan manusia untuk
menyampaikan pesan sudah ada jaman itu, dengan media yang ada saat itu yaitu
batu. Pada jaman batu, manusia menulis pada media batu dan dinding-dinding goa.
Sehingga kini kita dapat mengetahui adanya kehidupan pada jaman tersebut dengan
kebudayaan yang mereka miliki, seperti berburu, kehidupan yang berpindah-pindah
dan bercocok tanam. Para peneliti kemudian menuliskannya dalam artikel-artikel
lalu kita membaca dan memahaminya.
SUMPAH PALAPA adalah suatu pernyataan /
sumpah yang dikemukakan oleh Gajah Mada pada upacara pengangkatannya
menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit, tahun 1258 Saka (1336 M). Sumpah Palapa ini ditemukan pada
teks Jawa
Pertengahan Pararaton, yang berbunyi :
Sira Gajah
Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun
huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran,
Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang,
Tumasik, samana isun amukti palapa".
Terjemahannya,
Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak
ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada,
"Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika
mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda,
Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".
Bagaimana
dengan penulis dari kita sendiri ? Ya ,kita juga memiliki seorang penulis yang
karyanya sangat memberikan tuntunan kehidupan kepada kita, memiliki unsur seni
yang sangat-sangat indah. Beliau adalah Ida
Ketut Djelantik (1905-1961) dengan karyanya Geguritan Sucita Subudhi.
Dari hal
diatas dapat kita sederhanakan bahwa pengetahuan kita tentang masa lalu berasal
dari tulisan, demikian pula pengetahuan di masa yang akan datang tentu berasal
dari masa tulisan kini. Masih banyak hal lain yang kita dapat ketahui karena
adanya tulisan, seperti kisah Para Pandawa dan Korawa dalam Epos Mahabarata yang ditulis
oleh Ganesha yang disampaikan Bhagawan
Byasa untuk kita umat manusia di dunia (sepertinya teknik wawancara sudah
ada sejak dulu) serta Kisah Rama-Sita dalam Epos Ramayana karya Bhagawan Walmiki. Sampai saat ini dapat
kita ketahui dengan baik walaupun telah terjadi pada ribuan tahun yang lalu. Sehingga
menjadi tanggung jawab kita saat ini untuk dapat meneruskannya kepada generasi
mendatang, menuliskan
dalam media yang berbeda tetapi memiliki makna yang sama.
Menuliskan
segala hal yang telah kita bangun untuk umat, segala hal yang berkaitan dengan
kemajuan kita sebagai umat Hindu di provinsi Banten. Media batu telah berganti
menjadi Lontar (daun lontar), kemudian ke media kertas, pada jaman ini ke media
digital. Saya pribadi lebih menyarankan penyimpanan tulisan mengguakan media
kertas (dicetak) karena media digital belum terbukti dapat menjadi abadi.
0 comments:
Post a Comment