Monday, October 22, 2018

MENGAPA MENULIS PENTING ?

Kita yang hidup pada jaman ini dapat mengetahui peradaban masa lalu dengan baik, bahkan peradaban dunia dari masa ke masa berikutnya. Ini semua adalah karena kita bisa membaca artikel-artikel tentang peradaban tersebut. Adanya artikel-artikel tidak semata-mata lahir begitu saja atau turun dari langit seperti air hujan, namun berkat karya-karya para pujangga terdahulu, yang menuangkan tulisannya dalam aneka media.

Kami kutipkan dari Peribahasa Latin kuno menyatakan Verba Volent Scripta Manent. Yang artinya “Apa yang terkatakan, akan segera lenyap. Apa yang tertulis akan menjadi abadi.” Memiliki pengertian bahwa sesuatu yang hanya kita sampaikan melalui media verbal (suara, bicara) akan lenyap atau terlupakan, namun yang disampaikan melalui tulisan akan menjadi abadi dan dapat dikenang sepanjang masa.

Ucapan seorang Mahatma Gandhi yang kita kenal sebagai pejuang Anti Kekerasan menyampaikan  “Kasih Sayang Merupakan Bentuk Tertinggi Dari Sikap Tanpa Kekerasan” . Lalu kenapa ucapannya sampai abadi ? Seandainya saja tidak ada pujangga yang menuliskan tentu ucapan beliau hanya bertahan saat-saat masa perjuangan.

Menulis itu bekerja untuk keabadian. Dengan menulis, maka seseorang akan terus ada sekalipun jasadnya sudah dipendam tanah. Seseorang yang rajin menulis maka hidupnya akan abadi, tak lekang di gerus zaman. Ia senantiasa hidup berkat karya-karyanya. Keabadiannya terletak pada karya-karya tulisannya yang dibaca banyak orang, yang pada akhirnya mengalirkan pahala kebaikan bagi si empunya tulisan. 

Pramoedya Ananta Toer

            Kita lihat ke masa lampau yang lebih extrim, pada jaman batu. Keinginan manusia untuk menyampaikan pesan sudah ada jaman itu, dengan media yang ada saat itu yaitu batu. Pada jaman batu, manusia menulis pada media batu dan dinding-dinding goa. Sehingga kini kita dapat mengetahui adanya kehidupan pada jaman tersebut dengan kebudayaan yang mereka miliki, seperti berburu, kehidupan yang berpindah-pindah dan bercocok tanam. Para peneliti kemudian menuliskannya dalam artikel-artikel lalu kita membaca dan memahaminya.

SUMPAH PALAPA adalah suatu pernyataan / sumpah yang dikemukakan oleh Gajah Mada pada upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit, tahun 1258 Saka (1336 M). Sumpah Palapa ini ditemukan pada teks Jawa Pertengahan Pararaton, yang berbunyi :

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa".

Terjemahannya,
Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa.  Ia Gajah Mada, "Jika telah mengalahkan Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa".
           
            Bagaimana dengan penulis dari kita sendiri ? Ya ,kita juga memiliki seorang penulis yang karyanya sangat memberikan tuntunan kehidupan kepada kita, memiliki unsur seni yang sangat-sangat indah. Beliau adalah Ida Ketut Djelantik (1905-1961) dengan karyanya Geguritan Sucita Subudhi.
Dari hal diatas dapat kita sederhanakan bahwa pengetahuan kita tentang masa lalu berasal dari tulisan, demikian pula pengetahuan di masa yang akan datang tentu berasal dari masa tulisan kini. Masih banyak hal lain yang kita dapat ketahui karena adanya tulisan, seperti kisah Para Pandawa dan Korawa dalam Epos Mahabarata yang ditulis oleh Ganesha yang disampaikan Bhagawan Byasa untuk kita umat manusia di dunia (sepertinya teknik wawancara sudah ada sejak dulu) serta Kisah Rama-Sita dalam Epos Ramayana karya Bhagawan Walmiki. Sampai saat ini dapat kita ketahui dengan baik walaupun telah terjadi pada ribuan tahun yang lalu. Sehingga menjadi tanggung jawab kita saat ini untuk dapat meneruskannya kepada generasi mendatang, menuliskan dalam media yang berbeda tetapi memiliki makna yang sama.

Menuliskan segala hal yang telah kita bangun untuk umat, segala hal yang berkaitan dengan kemajuan kita sebagai umat Hindu di provinsi Banten. Media batu telah berganti menjadi Lontar (daun lontar), kemudian ke media kertas, pada jaman ini ke media digital. Saya pribadi lebih menyarankan penyimpanan tulisan mengguakan media kertas (dicetak) karena media digital belum terbukti dapat menjadi abadi.

0 comments:

Post a Comment