Tuesday, August 21, 2018

KURBAN SUCI : 6 MAKNA DAN FUNGSI UPAKARA


6 MAKNA DAN FUNGSI UPAKARA

Pernah Ke Bali ? Ach Basa Basi Bro. Kasian amat belum pernah ke Bali, tapi pastilah tahu Bali, Pulau Dewata, Pulau Sorga, The Last Paradise kata orang Bule. Bali yang dihuni Orang Bali dengan agama Hindu dan Budaya Bali yang sangat dipegang teguh bukan tanpa alasan, karena semua itu memiliki makna dan fungsi. Setiap gerak langkah Orang Bali selalu penuh filosofi, kini saatnya kita memahami filosofi dari Upakara yang selalu kita saksikan dimana saja Orang Bali yang Beragama Hindu berada.

Fungsi upakara (banten atau yadnya) yang dipergunakan dalam pelaksanaan upacara-upacara agama Hindu pada dasarnya adalah sebagai “sewaka” atau “service” yaitu berupa pelayanan yang diwujudkan dalam bentuk hasil kegiatan kerja untuk dipersembahkan atau dikurbankan kehadapan Beliau yang dihadirkan.



Apabila dikaji secara mendalam mengenai fungsi upakara tersebut, ada enam fungsi yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk dihayati dalam pelaksanaannya, adalah sebagai berikut :

Hal ini disebabkan oleh kemampuan yang dimiliki oleh manusia sangat terbatas adanya, dalam usaha untuk mendekatkan hubungan dengan Ida Sang Hyang Widdhi Wasa dan segala manifestasi-Nya, untuk menyampaikan rasa terima kasih karena berbagai anugerah yang diperolehnya. Dengan melihat banten/upakara,pikirannya sudah teringat dan terarah pada yang dihadirkan untuk dipuja.


Upakara sebagai persembahan, apabila ditujukan kehadapan yang lebih tinggi tingkatannya dari manusia sedangkan kurban suci apabila ditujukan kepada yang tingkatannya lebih rendah daripada manusia seperti dalam pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya. Maksud dan tujuan dari pada persembahan atau kurban suci itu adalah sebagai pernyataan dan perwujudan rasa terima kasih manusia kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasi-Nya, atas segala karunia yang telah dilimpahkan dan diterima, sehingga dapat melaksanakan tugas kehidupannya.


Fungsi upakara/banten sebagai sarana pendidikan memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa, akan dapat dilihat dan dirasakan dari awal proses pembuatannya, karena banten yang dibuat ini bentuknya sangat unik dan rumit, maka memerlukan pikiran yang terarah, didasari dengan Tri Kayaparisudha, berpikir, berkata dan berlaksana yang baik dan benar, sesuai dengan tuntunan Agama Hindu.


Upakara yang telah diwujudkan, merupakan hasil daripada pengendalian diri terhadap keterikatan akan benda-benda duniawi. Bila hal itu dihayati lebih mendalam, maka mereka yang telah berhasil membuat upakara untuk diyadnyakan, itu berarti mereka telah berhasil menyucikan pikirannya dari rasa ego terhadap karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah menjadi miliknya.

Fungsi upakara sebagai perwujudan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam berbagai pustaka suci yaitu dalam lontar Yadnya Prakreti, Tegesing Arti Bebanten, semua sarana yang dipakai mempunyai arti simbolis, seperti pada canang genten , upakara yang paling kecil itu sudah termasuk inti, karena menggambarkan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Trimurti.


Upakara yang dipersembahkan atau dikurbankan kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau manifestasi-Nya, selalu dibuat seni, indah dan menarik yang penuh arti simbolik dan makna filosofis


Nah setelah anda memahami fungsi dari Upakara yang selalu terlihat dari keseharian orang Bali, ini menunjukkan betapa religiusnya Orang Bali dan sangat memahami Ke-Esa-an dari pada Tuhan. 

Sumber Penulis : Dari Buku Hindu   



0 comments:

Post a Comment