6 MAKNA DAN FUNGSI UPAKARA
Pernah Ke Bali ? Ach Basa Basi Bro. Kasian amat belum pernah ke Bali, tapi pastilah tahu Bali, Pulau Dewata, Pulau Sorga, The Last Paradise kata orang Bule. Bali yang dihuni Orang Bali dengan agama Hindu dan Budaya Bali yang sangat dipegang teguh bukan tanpa alasan, karena semua itu memiliki makna dan fungsi. Setiap gerak langkah Orang Bali selalu penuh filosofi, kini saatnya kita memahami filosofi dari Upakara yang selalu kita saksikan dimana saja Orang Bali yang Beragama Hindu berada.
Fungsi upakara (banten atau
yadnya) yang dipergunakan dalam pelaksanaan upacara-upacara agama Hindu pada
dasarnya adalah sebagai “sewaka” atau
“service” yaitu berupa pelayanan yang
diwujudkan dalam bentuk hasil kegiatan kerja untuk dipersembahkan atau
dikurbankan kehadapan Beliau yang dihadirkan.
Apabila dikaji secara mendalam
mengenai fungsi upakara tersebut, ada
enam fungsi yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk dihayati dalam
pelaksanaannya, adalah sebagai berikut :
Hal ini
disebabkan oleh kemampuan yang dimiliki oleh manusia sangat terbatas adanya,
dalam usaha untuk mendekatkan hubungan dengan Ida Sang Hyang Widdhi Wasa dan segala manifestasi-Nya, untuk
menyampaikan rasa terima kasih karena berbagai anugerah yang diperolehnya.
Dengan melihat banten/upakara,pikirannya
sudah teringat dan terarah pada yang dihadirkan untuk dipuja.
Upakara
sebagai persembahan, apabila ditujukan kehadapan yang lebih tinggi tingkatannya
dari manusia sedangkan kurban suci apabila ditujukan kepada yang tingkatannya
lebih rendah daripada manusia seperti dalam pelaksanaan upacara Bhuta Yadnya. Maksud dan tujuan dari
pada persembahan atau kurban suci itu adalah sebagai pernyataan dan perwujudan
rasa terima kasih manusia kehadapan Ida
Sang Hyang Widhi Wasa dan segala manifestasi-Nya, atas segala karunia yang
telah dilimpahkan dan diterima, sehingga dapat melaksanakan tugas kehidupannya.
Fungsi
upakara/banten sebagai sarana pendidikan memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa, akan dapat dilihat dan dirasakan dari
awal proses pembuatannya, karena banten yang dibuat ini bentuknya sangat unik
dan rumit, maka memerlukan pikiran yang terarah, didasari dengan Tri Kayaparisudha, berpikir, berkata dan
berlaksana yang baik dan benar, sesuai dengan tuntunan Agama Hindu.
Upakara yang
telah diwujudkan, merupakan hasil daripada pengendalian diri terhadap
keterikatan akan benda-benda duniawi. Bila hal itu dihayati lebih mendalam,
maka mereka yang telah berhasil membuat upakara untuk diyadnyakan, itu berarti
mereka telah berhasil menyucikan pikirannya dari rasa ego terhadap karunia Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang telah
menjadi miliknya.
Fungsi upakara
sebagai perwujudan Ida Sang Hyang Widhi
Wasa dalam berbagai pustaka suci yaitu dalam lontar Yadnya Prakreti, Tegesing Arti Bebanten, semua sarana yang dipakai
mempunyai arti simbolis, seperti pada canang
genten , upakara yang paling kecil itu sudah termasuk inti, karena
menggambarkan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam
manifestasi-Nya sebagai Trimurti.
Upakara yang
dipersembahkan atau dikurbankan kehadapan Ida
Sang Hyang Widhi Wasa atau manifestasi-Nya, selalu dibuat seni, indah dan
menarik yang penuh arti simbolik dan makna filosofis
Nah setelah anda memahami fungsi dari Upakara yang selalu terlihat dari keseharian orang Bali, ini menunjukkan betapa religiusnya Orang Bali dan sangat memahami Ke-Esa-an dari pada Tuhan.
Sumber Penulis : Dari Buku Hindu
0 comments:
Post a Comment